Tampilkan postingan dengan label Opini Aktual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini Aktual. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2015

Kongres PDIP, Lagi-lagi di Bali


Kongres PDIP menjadi headline di banyak media nasional. Lagi-lagi Bali menjadi pilihan partai belambang banteng dengan moncong putih ini untuk melaksanakan kongres. Sepertinya para fungsionaris partai dan pendukungnya memang senang sekali dengan Kota Bali.

Bali memang tempat yang indah, pantainya yang luar biasa, juga budaya yang masih kental melekat dengan Bali. Selain anjing-anjing yang berkeliaran dan sampah sesaji, Bali adalah tempat yang nyaman untuk dikunjungi (sambil melirik suami, kapan kita mau plesir ke Bali?). Siapa yang tidak kenal Bali? Bahkan konon Bali itu sendiri lebih terkenal ketimbang Indonesia.

Lain Bali, lain Megawati, semoga kongres PDIP lagi-lagi di Bali, tidak menjadi Kongres PDIP, lagi-lagi Megawati. Terus terang, saya merasa kasihan dengan bu Mega, bayangkan saja, seorang janda, harus memimpin sebuah partai besar seperti PDIP, tak hanya satu periode, tapi nyaris sepanjang berdirinya partai ini, Megawati menjadi tokoh central partai. Saya sampai berpikir, apa tidak lelah bu Mega itu? Atau jangan-jangan memang beliau senang menjadi demikian. Jangan sampai kami yang ada di luar, berpikir PDIP tak punya cukup kader yang mumpuni untuk menggantikan beliau. 

Kita lihat saja, wait and see, apakah akan lagi-lagi Megawati?

Saya berdoa, semoga kongres yang sedianya akan dimulai pada tanggal 9 April 2015 ini, bisa berjalan dengan lancar, banyak keputusan-keputusan besar yang dihasilkan oleh kongres.

(Efek kurang tidur)

"I Dont Read What I Sign"


Belum genap setahun Jokowi menjadi Presiden RI, tapi sudah banyak sekali kisruh politik yang muncul di tengah masyarakat Indonesia. Salah satu yang paling menghebohkan adalah Perpres mengenai DP mobil dinas pejabat. Kenaikan DP mobil dinas tersebut dinilai tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia pada saat ini. Masyarakat yang berada dalam ekonomi sulit di tengah gempuran kenaikan harga bahan kebutuhan pokok dan BBM, justru pemerintah tega memberikan tunjangan lebih kepada para pejabat negara. Rakyat kecil hanya bisa mengeluh melalui mesos saja, hingga ulah Jokowi itu memicu trending topic dunia atas kebijakan absurdnya tersebut.

Sebagai ibu rumah tangga biasa, saya tidak ingin menyorot gejolak dalam masyarakat yang sedang terjadi saat ini. Sebab sudah sejak awal saya tidak mendukung Jokowi menjadi presiden. Apapun perkataan saya tentang Jokowi, bisa dipastikan adalah nada yang menyudutkan, demikian pula perasan saya, pasti adalah perasaan kecewa seorang pendukung capres yang belum move on karena pilihannya tidak jadi presiden.

Saya hanya ingin membuat sebuah perumpamaan dari situasi ini, di mana ada satu masa, suami saya sebagai kepala rumah tangga, pernah tiba-tiba bertanya, "Dek, uang kemaren masih ada?" padahal jelas-jelas dia tahu bagaimana saya membelanjakan uang pemberiannya. Apalagi saya ini ibu rumah tangga yang tak suka nge-mall, apalagi belanja onlen, saya jauh sekali dari sifat hedonis, bahkan cenderung anti kemapanan dan nyaman menggunakan daster bolong-bolong. Bahkan bila dia cukup memperhatikan, sejak tiga tahun menikah, saya hanya membeli baju beberapa kali saja, dan itu pun karena dia yang memaksa saya membeli baju.

Yah, pernyataan Jokowi yang menjadi tajuk dalam sebuah koran berbahasa asing itu, "I dont read what I sign", serupa pernyataan suami saya, yang tiba-tiba bertanya ke mana uang belanja yang dia berikan pada saya. Jelas-jelas dia tahu persis ke mana uang-uang itu mengalir. Belanja makanan, belanja sabun, pulsa, listrik, dll. Bahkan terkadang dia juga meminta kembali uang itu, bila kebetulan sakunya telah kosong karena dia ingin membeli gadget baru.

Tak pelak ucapan suami saya yang bernada mempertanyakan itu langsung membuat emosi saya naik sampai tingkat gawat darurat. Segera saya sampaikan dengan wajah memerah, menahan tangis, "Mas kan tahu, itu sudah dibelanjakan untuk ini dan itu." Tak cukup sampai di sana, saya bahkan berniat untuk mendiamkannya hingga sementara waktu, keributan dalam rumah tangga tak terelakkan lagi, sebetulnya lebih mirip perang dingin ketimbang ribut, meski karena saya tak tahan bila tidur tak dipeluk suami, akhirnya saya mengalah dan memilih membuka obrolan kembali dengan suami. Biar bagaimana pun, dia adalah seseorang yang saya cintai, saya banggakan, dan saya tahu dia mencintai saya.

Bila dalam sekup kecil rumah tangga hal semacam itu sudah membuat masalah sebegitu besar. Apakah rakyat seperti saya harus punya maklum yang besar juga pada Presiden pilihan rakyat. Ah, sudahlah, Jokowi bukan suami saya, bukan pula orang yang saya cintai, bagi saya bahkan tak ada presiden hingga masa jabatan Jokowi selesai.

Jelas sudah tercatat dalam sejarah, Indonesia pernah punya presiden yang berkata, "I dont read what I sign." Siapa yang perduli? Dalam sejarah hidup saya, Indonesia pernah sekali tidak punya presiden.