Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2015

Halal Bi Halal

Hari terakhir puasa, mungkin masing-masing orang punya cara pandang yang berbeda-beda soal hari ini. Dulu, para sahabat menangisi berakhirnya bulan Ramadhan, sementara kita terkadang disibukkan dengan persiapan Iedul Fitri. Apalagi emak-emak, pastinya sudah repot di dapur, ngurus masakan khas hari raya, lontong, opor, sambel goreng kentang, pencok, belum lagi kue-kue kering. Kadang pengen nanya, kenapa sih harus begitu? Siapa sih yang memulai tradisi aneh ini? Atau kenapa harus mudik? Ah, yang jelas hari ini menjadi ribet, kecuali bagi yang tidak mau ribet.

Saya bukan orang yang suka keramaian, meski kalau berkumpul dengan banyak orang saya biasanya yang paling rame, tapi sejujurnya bila mungkin saya lebih suka sunyi, lebih suka menikmati sepi. Hari raya ini, rasanya tidak mungkin sunyi. Tradisi telah membawa kita pada sebuah kewajiban tak tertulis, tapi tak patut bila ditinggalkan. Saya pikir ini tradisi yang baik, tak mengapa, tokh beberapa orang hanya satu tahun sekali ini bisa bertemu, anggap saja memanfaatkan momen liburan untuk berbakti pada orang tua, untuk silaturahim dengan keluarga, untuk saling memaafkan.

Maka beruntung rasanya bertemu hari Iedul Fitri, meski tak ada tuntunan yang mengajarkan kita untuk saling memafkan selama Iedul Fitri, tapi atas nama gengsi, banyak orang yang kalau mau minta maaf menunggu Iedul Fitri. Yah, daripada tidak sama sekali. Maka muncullah tradisi baru bernama halal bi halal. Jaman saya kecil(pernah kecil), semua orang berkeliling dari rumah ke rumah, mengunjungi semua tetangga, sehingga wajar bila pada hari ini seolah orang berlomba untuk membersihkan rumah, membuat hidangan terbaik, semoga niatnya karena untuk memuliakan tamu, bukan untuk pamer atau kebanggaan pribadi. Lalu, tradisi itu berganti, kini orang satu kampung tak lagi saling mengunjungi, tapi berbaris sepanjang gang untuk bersalaman secara berurutan. Intinya kalau sudah salaman artinya sudah kosong-kosong. Menurut saya ada baiknya juga, lebih simple, meskipun akhirnya anak-anak kecil jaman sekarang tidak mengalami nasib seperti saya, bisa mencicipi semua kue di semua rumah, belum sirup atau Fanta, juga nggak kebagian uang fitrah dari tiap rumah.

Acara ini selanjutnya sering disebut dengan halal bi halal, konon masyarakat Arab sendiri bingung dengan arti halal bi halal. Ya anggap saja ini kata serapan dari bahasa Arab, karena halal sendiri artinya boleh, atau diperkenankan, maka mungkin maksudnya kosong-kosong tadi, sudah, nggak apa-apa, salah yang lalu sudah selesai. Konon lagi, sejarahnya halal bi halal ini dimulai dari Kraton Surakarta, pada masa Pangeran Sambernyawa menjabat sebagai KGPAA Mangkunegara I, untuk menghemat tenaga biaya dan lain sebagainya, sang Pangeran mengadakan open istana, para punggawa akan datang dan sungkem kepada seluruh keluarga kerajaan. Jadilah tradisi ini diteruskan sampai sekarang.

Uniknya, karena ada acara semacam halal bi halal ini, para jomblo akan ditanya, "Kapan nikah?", bila sudah nikah akan ditanya, "Kapan punya anak?", bila sudah punya anak akan ditanya, "Kapan nambah lagi?", bila sudah punya banyak anak akan ditanya, "Anak-anaknya sudah besar ya? Sekolah di mana?" dan ribuan pertanyaan lain. Khas Indonesia! Apa bagus? Menurut pendapat saya pribadi sih itu bagus, artinya banyak orang yang sangat perhatian dengan kita. Anggap saja uangkapan-ungkapan itu adalah saat-saat untuk saling mendoakan.

Itu bukan cuma satu keunikan yang bisa kita lihat, keunikan lainnya adalah budaya baju baru, sandal baru, semua serba baru. Itu juga menurut saya bagus, karena memang disunahkan untuk mengenakan pakaian yang terbaik. Repotnya kalau baju barunya ada yang kembar, alamak... silahkan pikir sendiri rasanya. Dan bagi sebagaian orang, beli baju baru itu ya pas hari raya, jadi tradisi ini sejauh ini masih cukup baik untuk memotivasi masyarakat mencari uang lebih banyak, catatannya, pencari nafkah niatnya untuk membahagiakan keluarga, bagian dari ibadah dan bentuk syukur.

Masih ada keunikan lainnya? Masih dong, yaitu salaman, bagi sebagian orang yang sudah tahu salaman antar lawan jenis yang bukan mahrom itu haram hukumnya, momen halal bi halal jadi bikin perasaan serba salah. Salaman jelas dosa, nggak salaman dibilang macem-macem. Apa harus pakai kaos tangan supaya aman? (Boleh juga, hehe), yang jelas sekali lagi, namanya ibadah itu bukan dasarnya ora kepenak, bila akhirnya segala sesuatu karena ora kepenak, maka wajarlah bila hidup anda masih di jaman ora kepenak. Justru ini sarana dakwah juga, ada pertanyaan, ada respon, berarti bagus. Kalau tidak ada pertanyaan, tidak ada respon malah ini akan menjadi semacam emang enak dicuekin, begitulah kira-kira.

Meskipun masih banyak keunikan lainnya, seperti baru saja saling memaafkan setelah itu akan saling ghibah, atau malah pada saat salaman itu juga bikin dosa lagi, atau ada juga yang memanfaatkan untuk promo produk terntentu dengan pakai pin "saya sudah turun BB 10Kg" dan lain sebagainya, itu hal yang lumrah, tak perlu menjadi pembahasan serius, sebab batre lepi juga sudah sekarat, sebaiknya saya segera beres-beres rumah, takut besok banyak tamu, rumah masih berantakan... Malu euy, belum repot punya anak rumahnya berantakan. Haha...

Taqobbalallohu minna wa minkum. Maaf lahir batin aja deh Mas dan Mba Bro!

Sabtu, 04 Juli 2015

Standar Kebaikan

"Bagaimana mungkin malamnya saya gambusan, paginya saya berdakwah." ujar seorang ustadz menanggapi pertanyaan seputar gambusan, sebuah kebiasaan masyarakat Arab keturunan yang tinggal di Indonesia. 


Sedikit banyak saya mengerti soal gambusan ini. Orang Arab paling suka mengundang makan, semakin sering orang mengundang makan-makan, semakin dermawan. Tak hanya makan-makan, acara gambusan ini utamanya adalah mendengarkan irama mandolin yang mengalunkan lagu-lagu khas Timur Tengah, tak jarang para tamu bergerak mengikuti irama, menari zapin. Selebihnya acara gambusan ini berisi ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, pokoknya intinya bersenang-senang. Tidak ada yang salah dengan gambusan. Hukumnya mubah saja, sebab isinya pun hanya lelaki, tidak ada campur baur antara lelaki dan perempuan. Sekadar menikmati seni, melepas penat setelah aktivitas mencari nafkah buat kaum lelaki. Sekali lagi ini hanya soal muru'ah. Sebuah standar kepatutan bagi seorang mukmin.

Muru'ah, memang bukan hal baru di kalangan para ulama. Asal katanya adalah mar'u, yang berarti manusia, dalam istilah lebih dikenal sebagai hal-hal yang membedakan antara manusia dengan binatang. Bagaimana manusia bertingkah laku baik dalam masyarakat, sehingga menambah wibawanya di tengah masyarakat. Tiap-tiap daerah juga punya perbedaan dalam hal muru'ah. Pernah suatu kali, suami menjadi sopir seorang syaikh dari Timur Tengah, begitu sampai di lokasi, sebagai penghormatan beliau melepas ikat kepalanya dan menggantinya dengan kopiah Indonesia. Sebab beliau tahu, di Indonesia kopiah merupakan sebuah tanda kehormatan.

Dulu, di jaman Imam Syafi'i, seseorang yang tidak menggunakan ikat kepala dianggap tidak terhormat, termasuk seseorang yang makan atau jajan sembarangan di pinggir jalan, itu juga dianggap orang yang tidak terhormat. Bahkan persaksiannya di pengadilan pun tidak diterima. Begitu berhati-hati seseorang terhadap perkara halal haram, sehingga itu menjadi sebuah standar kebaikan. Lain jaman, lain cerita, kini standar kebaikan, kita akui atau tidak, telah merosot jauh. Dulu cium tangan orang tua sebelum tidur adalah hal yang harus dilakukan seorang anak kepada orang tua, seperti sebuah aturan tak tertulis, kebiasaan itu harus dilakukan oleh seluruh anggota keluarga sebagai bentuk penghormatan. Kini kebiasaan baik itu pun seolah terkikis. Jangankan cium tangan sebelum tidur, sebelum bepergian pun cium tangan seolah sudah menjadi hal yang tidak terlalu penting untuk dilakukan. Lebih ekstrem anak gadis yang keluar malam, dulu bisa-bisa dicap sebagai perempuan yang kurang baik. Nyatanya sekarang jam 9 malam pun masih banyak para gadis yang baru pulang atau berangkat bekerja, atau bisa juga baru pulang dari kampus.

Standar kebaikan ini, memang bukan sebuah kewajiban, bukan pula merupakan ibadah-ibadah sunnah seperti yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW, ini adalah budaya setempat. Sebagai seorang muslim, tentu saja hal ini menjadi sebuah kebaikan bagi kita selama budaya dan nilai kebaikan tersebut sejalan dengan agama. Sayang kini orang lebih suka mempertahankan standar budaya yang sebaliknya, yang jauh dari nilai-nilai kebaikan, yang penuh kesesatan dan bahkan cenderung tak layak disebut memiliki nilai.

Pada akhirnya saya hanya bisa menghela nafas panjang, mencoba lebih arif memahami dunia yang nyatanya tak pernah hitam putih. Tuntutan jaman, kebutuhan, dan atas nama segala yang terlintas dalam benak manusia, telah menjadi sebuah standar-standar yang semakin lama semakin heterogen. Masyarakat pun semakin tak perduli dengan segala standar kebaikan tersebut. Ini menjadi catatan pada pribadai-pribadi kita sendiri, standar kita terhadap diri kita masing-masing, yang kelak mau tidak mau akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan. Ini soal harga diri!

#menulis_hamasah_1

Selasa, 07 April 2015

Jodoh untuk Sahabatku


Kami berdua sama-sama belum menikah, kami berdua sama-sama jomblo dan tak mau punya pacar, kami berdua menghabiskan waktu bersama, meski jarak ratusan kilometer. Dia meneleponku dari pagi hingga pagi lagi, aku tahu semua aktivitasnya, dia pun tahu semua aktivitasku. Aku bahkan tahu di kantor dia duduk menghadap ke mana, apa warna dinding ruangannya, dan siapa saja nama kawan-kawannya. Obrolan kami tak pernah kehabisan tema, mulai dari urusan pakaian, usaha, jalan-jalan, kuliner, apa saja, dan trending topiknya tentu adalah pernikahan.

“Poy, aku takut kamu menikah duluan.” ujarnya.

“Kenapa? Nggak masalah siapa yang menikah duluan, yang lebih penting kita selalu komunikasi, seperti biasa.”

Saat itu aku sungguh tak mengerti, apa arti sebuah pernikahan, bagaimana kehidupan seseorang yang sudah menikah, dan lebih parah lagi, aku sama sekali tidak merasa bahwa ternyata aku yang harus bersiap untuk ditinggalkan olehnya menikah. Banyak biodata ikhwan yang mampir ke mejaku, tapi entah mengapa ada saja hal-hal yang membuat proses ta’arufku sampai ke tahap berikutnya. Anehnya aku merasa biasa saja, tidak pernah patah hati, tidak pernah kesal, juga tidak merasa rugi. Semua berjalan seperti tak ada persoalan.

Hingga suatu hari, dia menangis dalam sujud panjangnya. Aku menatapnya dari tempat tidurku, sebuah doa terlantun dari hatinya, soal pernikahan. Aku menghela nafas panjang, malam itu aku tak bisa kembali tidur. Saat itu usia kami 25, memang sudah sepantasnya kami menikah. Teman-teman sudah banyak yang menikah, bahkan adik-adik kami di kampus juga sudah banyak yang menikah.

Dia, mungkin tak seberuntung diriku yang berkali-kali ditawari ikhwan, memegang biodata ikhwan saja belum pernah. Dia juga tak seperti gadis lain, yang bisa dengan nyaman ngobrol panjang dengan lawan jenis, dan dia juga tidak mengenal banyak orang, sahabat terdekat sejauh yang aku tahu, hanya aku.

“Soy, yuk kita cari jodoh.” Ujarku memancing obrolan yang lebih dalam dari sekadar bermimpi tentang kriteria pendamping ideal.

“Gimana caranya?” ada antusias di matamu.

“Oke, sekarang ambil kertas dan pulpen.” Mendadak aku sama antusiasnya dengannya.

Dia menuruti setiap kataku, bahkan tanpa pikir panjang bahwa orang yang dihadapannya ini juga belum menikah. Aku memintanya menulis analisa SWOT tentang dirinya sendiri, dan aku minta pula ia menulis semua kriteria pendamping yang dia harapkan, setelah itu aku memintanya menulis daftar apa saja yang bisa dilakukan untuk mendapat jodoh, perbaikan apa saja yang akan dilakukannya, lalu aku mengoreksi semua jawaban atas pertanyaanku sendiri. Aku bahkan dengan sangat yakin menyampaikan padanya, “Kalo perlu kita datengin ustadz-ustadz, kita titip biodata ke sana!”

Dia tersenyum, wajahnya menyiratkan satu makna, yakin sekali.

Aku memutar otak, bagaimana mungkin aku mencarikan ikhwan untuk sahabatku itu, sementara aku sendiri tak punya banyak kenalan ikhwan. Kalau pun ada, ikhwan kenalanku itu rata-rata punya selera sapi! Tinggi, putih, bermata belo, dan biasanya bodoh! Sahabatku bukan tidak cantik, kulitnya juga putih, tapi matanya begitu kecil, sama sekali tak mirip sapi.

Aku sendiri menuliskan daftar ikhwan kenalanku, yang mungkin sesuai dengan kriteria sahabatku. Aku bahkan membuat analisa SWOT terhadap peluang-peluang yang paling mungkin. Hingga aku menemukan seseorang yang kuanggap tepat. Seorang ikhwan, kawan di kantornya, namanya Ahmad. Ia pria yang berdasarkan cerita sahabatku rajin ke masjid, tidak banyak omong, tapi humoris, penyuka mobil jeep, dan hobi sekali modivikasi. Kupikir dia orang yang tepat.

Bergerak cepat, tak ingin berlama-lama membuat sahabatku menunggu, aku diam-diam mencuri nomor ikhwan itu dari handphone-nya, aku curi pula alamat Facebook-nya, aku juga mencuri foto-foto ikhwan itu, dan kuawasi pula time line facebook-nya. Setelah yakin bahwa ikhwan ini adalah ikhwan yang tepat, aku memberanikan diri mengiriminya surat. Korespondensi kami berjalan lancar, sejauh ini dia cukup terbuka dan mau mengikuti petunjukku. “Baik Akhi, bila memang serius, silahkan besok datang ke alamat ini, dan lamar saja akhwat itu, tapi antum juga harus siap dengan segala konsekuensi baik diterima atau ditolak.” entah apa yang membuatku begitu cepat mengambil langkah, aku hanya berpikir simple saja, bila memang jodoh tokh tidak akan ke mana.

Ikhwan itu mengiyakan, pada hari yang ditentukan dia berangkat ke rumah sahabatku, sementara itu, aku meluncur ke Ibu Kota, menemui sahabatku. “Soy, hari ini Ahmad datang ke rumahmu, dia mau melamar.” ucapku hati-hati, meski demikian, aku tahu pasti, berita ini akan seperti petir di siang bolong. Benar saja, sahabatku tak berhenti ke kamar mandi hingga lebih dari tujuh kali. Aku yang baru datang jauh-jauh dari Purwokerto bahkan tak sempat ditawari makanan olehnya.

Segera kupastikan sahabatku menelepon keluarganya, memastikan ikhwan itu tidak nyasar dan diterima dengan baik. Setelah itu dua bulan kemudian mereka menikah. Sejak saat itu, aku baru merasakan betul, bagaimana menunggu jodoh yang tak kunjung datang.

Aku dan Suamiku



“Suamiku seperti malam di Tihamah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada ketakutan dan tidak ada rasa bosan.”

Dulu sekali, ketika aku masih gadis tomboy yang tak begitu suka obrolan seputar ikhwan dan pernikahan, aku punya sebuah gambaran tentang sosok suami dan istri yang ideal, sangat ideal bahkan. Kubayangkan bahwa hubungan istri dan suaminya itu adalah murni hubungan ibadah, di mana istri akan patuh pada suami bukan atas dasar perasaan picisan yang disebut cinta, namun semata karena seorang istri sudah sepatutnya mematuhi suami karena itu adalah perintah Allah. Tak perduli suaminya itu tidak sesuai dengan harapan, asalkan dia beriman, kewajiban istri adalah ta’at. Begitu pun dengan suami dalam bayanganku, dia adalah seseorang yang akan mendidik istrinya untuk ta’at pada Allah, memberi nafkah, juga saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa.

Amboiii, sungguh dongeng masa lalu itu selalu membuatku nyengir kuda saat mengingatnya. Bodoh itu memang ada di dunia ini, dan jenisnya juga sangat banyak. Salah satunya adalah mempelajari ilmu tanpa ilmu. Seperti kita yang belajar tafsir Qur’an tanpa nahwu sharaf. Mungkin bisa saja diterjemahkan, tapi kandungan maknanya akan miskin papa.

Begitu cepat segalanya terjadi, aku menikah, punya suami dan menyandang status sebagai seorang istri, rasanya masih risih bila ia menggandengku. Namun tak lebih dari satu menit dia mengucap ijab dan qobul, segalanya telah berubah. Hari itu juga aku diboyong ke rumah kontrakan kami. Malam itu suamiku mengantar adiknya, satu-satunya tamu yang masih tersisa ke stasiun kereta. Aku menunggunya di rumah, sendirian saja. Tanpa kusadari aku tertidur, mungkin karena terlalu lelah. Saat terbangun, aku berpikir sejenak, “Ini dimana? Oh, iya aku sudah menikah, dan ini kan kamar baruku, lalu dimana suamiku? Oh, mungkin masih ke kamar mandi.”

Jam dinding menunjukkan pukul 02.15, aku menunggu ada suara, senyap. Bukankah tadi suamiku mengantar adiknya ke stasiun, dan rumah kukunci dari dalam, lalu aku rebahan sejenak dan aku tertidur lelap, jadi di mana dia? Aku pun panik dan segera mencari handphone, 3 misscall, dari Akh Koco, oh iya itu kan nama suamiku. Akhirnya aku menelepon balik ke nomornya, tak ada jawaban. Tangisku pecah sudah, sejadi-jadinya. Tidur di mana dia? Memalukan sekali, pengantin baru tidur di kos teman? Atau di mushola kompleks? Aku betul-betul bingung.

Kuputuskan untuk mencarinya, tidak bisa tidak, atau setidaknya aku akan melaporkan kejadian ini pada kakakku, meskipun aku tahu ini hal yang memalukan. Aku membuka pintu rumah, dan melihat tubuh itu, tidur di kursi teras, berselimut jaketnya. Ah, tangisku semakin parah.

Begitulah aku melalui malam pertamaku. Aku bersyukur kejadian ini tak pernah terulang lagi. Aku bahkan tak pernah bisa tidur bila suamiku belum pulang. Namun itu bukan berarti aku telah menjadi istri yang ideal seperti yang kubayangkan dulu. Aku malah seringkali berpikir aku istri yang sangat suka “ngeyel”, bahkan untuk urusan mandi pun aku masih suka ngeyel. Aku lebih suka mandi setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, maksudku biar sekalian kotor, tapi suamiku maunya aku mandi sebelum ia berangkat kerja. Sepele dan remeh-temeh, tapi bagiku mandi sebelum mengerjakan semua pekerjaan itu seperti mubazir baju, aku harus ganti baju, bahkan bila perlu mandi lagi. Menurut suamiku tidak masalah ganti baju atau mandi lagi, di lemari banyak baju, di kamar mandi air juga banyak.

Apa ini konsep suami istri ideal yang dulu sering kubayangkan? Untuk urusan mandi saja aku membantah, tapi kan ada alasannya? Ah, Dasar bebal!

Ya, ternyata konsep lillah, hanya mencari ridho Allah, itu bukan perkara mudah. Justru karena itu bukan perkara mudah, maka Allah memberikan sakinah di dalamnya, sebuah ketenangan. Di mana saat-saat ketenangan, perasaan nyaman itu muncul, kita bisa khusyu’ dalam berumah tangga. Menjalani ibadah sebagai istri dengan hati yang tenang. Lalu muncul pula mawaddah, cinta, hal-hal yang membuatku tertarik pada suamiku, yang membuat ibadah terasa menyenangkan, juga membuat pengorbanan terasa ringan. Terlebih saat-saat ada konflik di antara kami, maka mawaddah ini lah yang membuat kami tetap bertahan, sebab perasaan ini membuat kami saling membutuhkan satu sama lain. Juga rahmah, kasih sayang, di mana kadang sosoknya menjadi sangat menyebalkan, tidak pengertian, banyak hal yang tidak aku sukai darinya, tetapi aku sayang. Rahmah ini yang membuatku menatap segala kekurangannya dengan harapan dan doa, sebagaimana ia bersabar dengan segala kekuranganku. Sungguh, menikah memang ibadah yang begitu besar pahalanya. Bahkan bagi seorang istri jaminan surga bila ridho suami ada padanya.

Ah, perjalanan ini masih panjang. Proses belajar dan adu sabar ini masih belum nampak siapa pemenangnya. Namun aku menikmatinya, setiap saat bersamamu, setiap detail proses yang kita lalui. Kekuatan cinta yang kusangka hanya roman picisan, ia justru begitu manusiawi dan mendasar. Bukan tanpa alasan Allah memberikan perasaan itu, ia memang sebuah kemudahan, sebuah karunia, sebuah kekuatan untuk bersama saling memperbaiki, meluruskan tujuan.

Manajemen Telur Ayam


Sejak SMP, saya mendapat tugas untuk mengambil uang gajian ibu di bank, karena ibu sedang sakit dan tidak bisa mengambil uang gajinya sendiri. Setiap bulan ibu selalu menyisakan sedikit dari uang gajinya yang sedikit untuk tetap menjadi penghuni tabungan. Saya perhatikan tak hanya uang gaji yang ibu sisakan sedikit, tapi juga uang di dompet meski hanya Rp. 100,-. Pernah suatu kali saya bertanya pada ibu, “Kenapa sih, harus disisain?” jawaban ibu waktu itu terdengar tidak masuk akal, katanya agar uang-uang itu memanggil temannya masuk dompet, saya tidak percaya, tapi kebiasaan menyisakan uang di dompet meski hanya Rp. 100,-, saya tiru sampai sekarang. Namun kebiasaan ibu menyisakan uang gaji di tabungan, itu belum bisa saya ikuti.

Berat sekali rasanya bagi saya untuk tidak menghabiskan seluruh gaji suami, rasanya bahkan gaji yang ada pun kurang banyak. Suatu kali, ibu pernah memberi jawaban yang lebih rasional soal gaji yang disimpan. Beliau bilang ini manajemen telur ayam, dari semua telur yang ada, ibu selalu menyisakan beberapa telur di kandang untuk dierami. Tak harus semuanya diambil, cukup atau tidak cukup harus cukup. Bila kebetulan ayam bertelur lumayan banyak, maka kami bisa makan telur ceplok, tapi bila ayam bertelur sedikit, kami bisa membuat telur dadar dengan campuran aneka sayuran. Kata ibu, kelak telur ayam yang disisakan akan bertelur lagi, dan ayam yang sudah tua bisa disembelih. Sederhana, tapi sangat sesuai dengan logika.

Saya tahu persis apa yang dilakukan ibu dengan uang-uangnya. Ibu seringkali mengajak saya mengobrol, atau mungkin sebetulnya sedang mengobrol dengan dirinya sendiri. Ada buku khusus yang ibu gunakan untuk mencatat setiap belanja harian, kadang saya ikut membaca buku-buku itu, menurut saya ibu sangat kurang kerjaan. Percaya atau tidak, saya bahkan menemukan harga beras masih Rp. 800,- dalam buku ibu. Sejak kapan ibu mencatat semua pengeluarannya? Mungkin sejak saya belum lahir ibu sudah mencatat. Pernah suatu kali ibu kehabisan uang di akhir bulan, beliau curhat ke saya, tak mau minta uang pada bapak, katanya harusnya bapak tahu, kalau ibu sudah tidak memegang uang. Berkali-kali hari itu saya bertanya pada ibu, apa bapak sudah memberi uang, tapi mungkin memang saat itu bapak juga tidak punya uang. Akhirnya saya putuskan untuk mengusulkan pada ibu mengambil uang di bank saja, ibu menolak.

“Uang di bank itu untuk keperluan yang lebih besar.” jawab ibu tegas.

Meskipun tak punya uang, kami sekeluarga tetap makan enak, hidup di desa membuat sayuran melimpah. Ibu menanam beberapa jenis sayuran di kebun kami, untuk lauk yang enak kami bisa saja menyembelih ayam, mengambil telurnya, atau memancing ikan di kolam. Urusan makanan beres, urusan uang saku tidak begitu. Kadang aku dan dua kakakku mendapat uang saku separuh dari yang biasanya kami peroleh. Bila ada keperluan sekolah yang cukup besar, baru ibu menyuruh kami untuk langsung minta pada bapak.

Ketika saya akan memasuki bangku kuliah, kondisi keuangan keluarga tak cukup bagus. Hampir saja bapak meminjam uang di bank, beruntung ibu punya tabungan yang selama ini disimpan di bank. Saya benar-benar tertolong, seluruh uang kuliah di bayar lunas dengan uang tabungan ibu.

Kadang saya heran, ibu saya tidak sama dengan ibu-ibu yang lain, karena secara fisik ibu memiliki keterbatasan, beliau lumpuh selama bertahun-tahun. Namun dalam kondisi demikian, ibu masih bisa menghasilkan uang yang tak sedikit jumlahnya. Di kamar beliau yang sempit, ibu berjualan baju. Anehnya tetangga berdatangan membeli baju pada ibu, tanpa promosi, tanpa pelayan, mereka dengan senang hati mengambil baju dari etalase, kemudian memasukkannya kembali ke dalam etalase. Selain berjualan baju, ibu juga menjual hasil panen apa saja di rumah, mulai dari pisang, kelapa, jeruk bayi, sawo, bahkan daun singkong. Dibantu asisten rumah tangga kami, ibu mengatur segalanya dari atas kursi roda.

Ketika ibu meninggal, ada satu hal yang membuat kami begitu kaget, hingga tak kuasa menahan air mata. Dalam buku-buku ibu, terselip catatan sedekah bagi beberapa orang tua yang sering berkunjung ke rumah. Bahkan ada beberapa amplop uang dengan nama-nama kecil yang tertera di bagian ujungnya. Saya tahu persis bagaimana pusingnya ibu mengatur keuangan keluarga, tapi masih juga beliau memikirkan orang lain. Sungguh apa yang dilakukan ibu, semua itu adalah sebuah pelajaran manajemen yang tidak saya dapat di bangku sekolah.

Beberapa hari lalu, saat mengikuti talkshow mengenai manajemen keuangan rumah tangga, saya hanya bisa mengenang apa yang telah dilakukan oleh ibu. Menabung, sedekah, membayar hutang, mencatat, menambah sumber income, semua teori yang disampaikan pembicara, ibu saya sudah mempraktekkan bertahun lalu. Ah, semoga bulan ini, dan bulan-bulan berikutnya, saya bisa lebih baik lagi dalam urusan manajemen keuangan.

Senin, 06 April 2015

Terimakasih Tikus Kecil

Pagi ini, aku berencana mengganti semua sprei di rumah. Aku dan suamiku tinggal berdua saja. Meskipun demikian, bapakku selalu datang menengok ke rumah setiap hari. Beberapa hari lalu aku terkena flu, dan karena kami cuma tinggal berdua saja, dengan rumah yang terdiri dari 3 kamar tidur, aku bisa tidur di mana saja, sesukaku. Akibatnya, begitu aku sembuh, semua sprei harus diganti, selain memang kupikir sudah waktunya diganti.

Aku punya lemari khusus di kamar belakang untuk menyimpan sprei. Lemari tua peninggalan ibuku, aku meletakkannya di ruang setrika, kamar paling belakang di rumah ini. Kamar yang paling jarang kukunjungi dan kondisinya lebih mirip gudang cucian, karena sejujurnya aku amat jarang menyetrika baju. Parahnya cucian itu dibiarkan menggunung di atas sebuah dipan kecil dalam ruangan. Betul-betul seperti gunung. Aku hanya menyetrika beberapa baju saja untuk bepergian, sisanya aku bahkan tak perduli. Hingga stok baju dalam lemari habis, aku baru kembali ke kamar itu, dan memanggil seseorang untuk membantuku menyetrika seluruh baju yang ada di kamar itu.

Hari ini, ketika membuka pintu lemari, aku melihat makhluk hitam kecil menyembunyikan dirinya dari pandanganku, matanya menatapku penuh kegelisahan, sementara tubuh kecilnya terus berusaha merangsek ke dalam. Tikus, aku benci tikus, sangat membencinya. Aku bukan Cinderella yang bisa bermain bersama tikus untuk menunjukkan kebaikan hati. Seketika itu pula aku berteriak, "Mas, ada tikus!"


Aku terus berteriak hingga suamiku datang, aku terus mengawasi makhluk kecil itu yang semakin waspada. Suamiku dengan sigap mengambil sebilah pipa paralon, menyuruhku ke luar dan menutup pintu kamar. Aku mendengar semuanya, dia berjibaku dengan tikus-tikus itu, suara klontang-klanteng terdengar dari luar. Lalu dia menyuruhku mengambil plastik untuk membungkus mayat-mayat tikus itu. Aku begidik, tapi sekaligus bersyukur, untuk sejenak mengeluh, melihat sprei-spreiku sudah terkena tikus.

Aku menghela nafas panjang. Aku harus mencucinya kembali, dan lebih memperhatikan ruangan ini. Gunungan cucian itu, sisi-sisi jendela yang tak tertutup dengan sempurna, juga sarang laba-laba di sudut langit-langit kamar. Aku betul-betul harus membereskannya. Sementara pikiranku melayang pada pekerjaan harianku yang lain.

Balada tinggal di rumah induk yang besar, sungguh sebuah epik yang sulit untuk kuhindari. Rumah yang dulu begitu rapi ketika ibuku masih hidup. Ketika masih riuh dengan keributanku dan dua orang kakakku, ketika masih ada seorang pembantu yang selalu siaga membereskan seluruh sudut ruangan. Sementara kini aku harus mengerjakannya sendiri. Aku ingin mengeluh, tapi terlalu malu.

Berbeda dengan perempuan lain yang memiliki anak, tentu mereka ada alasan untuk memiliki seorang pembantu, tapi aku begitu bebas, ibu rumah tangga biasa yang tak punya jadwal pekerjaan tetap seperti ibu bekerja, aku juga punya suami yang sangat toleran dengan kemalasanku, terkadang aku bahkan hanya melewatkan hari dengan membaca buku.

Ya, ada yang harus diubah dalam manajemen hidup seorang ibu rumah tangga, khususnya aku. Dan tikus menyebalkan itu, adalah alarm pemantik kesadaran, dia datang dari dunianya, untuk memberi pelajaran pada seorang ibu rumah tangga pemalas seperti diriku. Malang nasibnya, berakhir dengan eksekusi mati diujung pipa paralon.

Terimakasih tikus kecil.