Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 April 2015

Diskusi Adalah Bagian dari Pembelajaran



Diary Kompilasi
27 Maret 2015

"Diskusi adalah bagian dari pembelajaran."
-Nassirun Purwokartun-




Dikisahkan ada seorang remaja belia yang gemar mengetuk pintu rumah para sahabat Rosulullah Sholallohu Alaihi Wasalam, satu per satu ia datangi para sahabat untuk bertanya akan banyak hal. Semangatnya menimba ilmu sungguh besar, tak jarang ia tertidur di muka pintu rumah para sahabat, demi menunggu si empunya rumah dan mengajaknya berdiskusi.

“Wahai keponakan Rosulullah, mengapa tidak kami saja yang datang menemuimu, untuk menimba ilmu darimu?” ujar para sahabat.

“Tidak, akulah yang mesti mendatangi Anda.” jawabnya

Pemuda belia itu bernama Abdullah Ibnu Abbas, hingga ia tumbuh menjadi seorang yang faqih dalam tafsir dan agama. Para sahabat seringkali bertanya padanya, “Dari mana engkau mendapatkan ilmu seperti itu wahai Ibnu Abbas?”

“Dengan lidah yang gemar bertanya, dan akal yang suka berpikir.”

Umar bin Khatab Radhiallohu Anhu bahkan menjadikan pemuda ini patner diskusinya. Beliau senantiasa memanggil Ibnu Abbas untuk duduk di majelisnya dan menyimak setiap pendapat Ibnu Abbas dalam banyak persoalan. Bahkan Umar menjulukinya “Pemuda tua”.

Kebiasaan diskusi adalah warisan para nabi dan rosul. Rosulullah Sholallohu Alaihi Wa salam selalu memberikan kesempatan diskusi pada para sahabat. Begitu antusias para sahabat mendengarkan penjelasan Rosulullah, dan mereka gemar sekali bertanya. Pertanyaan mereka akan mempertajam pengetahuan. Tak hanya itu, dengan berdiskusi amat banyak inspirasi yang muncul, peluang kita untuk menjadi inspirasi bagi kawan yang lain, selain itu diskusi juga mengasah kepekaan kita terhadap inovasi dan pengetahuan baru, serta masih banyak lagi manfaat dari berdiskusi yang bisa kita peroleh.

Hari ini berada 14 abad jauh dari masa-masa para penuntut ilmu itu berada, budaya diskusi mulai terkikis dari kebiasaan para pemuda Islam. Ilmu seringkali menjadi barang tabu yang tak boleh menjadi bahan diskusi, sehingga pengetahuan hanya sebatas pada apa yang diberikan oleh guru pada muridnya. Ada tiga kemungkinan dalam hal ini, kemalasan sang murid untuk berpikir dan bertanya sehingga merasa cukup dengan ajaran gurunya, atau barangkali sang guru tak memberi kesempatan pada muridnya untuk berdiskusi. Kemungkinan terakhir adalah karena merasa cukup dengan banyaknya informasi yang ada, terlebih saat ini adalah era informasi, di mana kita bisa langsung bertanya pada guru besar seluruh bangsa yaitu Google. Padahal ada banyak sekali pengetahuan yang harus kita saring dari Google, dan hal itu hanya bisa kita lakukan dengan cukupnya ilmu pengetahuan yang kita miliki.

Ironisnya, di kala kita enggan dan malu-malu untuk berdiskusi, kebiasaan baik ini justru telah sekian lama menjadi kebiasaan para pejuang kebathilan. Pernah satu ketika saya dikejutkan sebuah pengalaman yang luar biasa, sekelompok pemuda duduk melingkar tengah malam buta di sebuah warung tenda. Saya pikir itu adalah tongkrongan biasa yang hanya dilakukan untuk membuang jenuh dan sebagai hiburan akhir pekan. Namun ternyata saya salah, mereka justru berbicara banyak hal, pendidikan, politik, strategi, budaya, dan banyak lagi. Sayangnya saya paham betul, apa yang mereka bicarakan arahnya adalah pada pemisahan agama dengan aspek-aspek kehidupan. Bagaimana mereka begitu bersemangat untuk membuat analisis akan sebuah persoalan, mengulitinya sampai tidak tersisa, hingga muncul ide-ide luar biasa yang menyeramkan bagi saya, tapi bagi mereka adalah sebuah penemuan.

Apakah memang mereka yang berhak mewarisi budaya diskusi para nabi? Tanya saya dalam hati.

Kita bersyukur, karena dalam setiap kesempatan, guru kita Pak Nassirun, Komunitas Soto Babat, dan para guru yang dihadirkan di majelis Kompilasi, berkenan membuka pintu ilmu seluas-luasnya. Mereka siap memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Namun sayang sekali, seringkali peluang itu terlewatkan karena keengganan kita untuk bertanya dan berdiskusi, menggali lebih dalam materi-materi yang disampaikan, jiwa kritis kita seolah mati.

Barangkali semangat kita menuntut ilmu memang jauh dari Abdullah Ibnu Abbas, sebab niatan kita memang belum sekokoh niat yang terpancang dalam hati Ibnu Abbas. Bila menulis telah menjadi bagian dari ibadah, menjadi sebuah jalan dakwah yang kita pilih, tentulah kesempatan ini menjadi sebuah kesempatan yang sangat besar bagi kita untuk menggali ilmu lebih dalam lagi dari para guru. Semoga kisah Ibnu Abbas di atas, mampu menjadi pemantik motivasi, agar peribadatan tinta dan dakwah bil qolam yang akan kita jalani, bukan lagi sekadar pilihan, tapi juga sebuah kewajiban sekaligus sebuah kebutuhan.

Bismillah, luruskan niat, rapatkan barisan, sempurnakan ikhtiar.

Senin, 06 April 2015

Belajar Jurnalistik Pada Wahyu Mandoko #Part1

Diary Kompilasi
Kamis, 19 Maret 2015
“Jiwa saya adalah menulis berita.”
Wahyu Mandoko



“Saya kesulitan berbicara, suarane ora genah.” ujar pria itu.

Saya tidak menangkap sedikit pun ”suara ora genah” yang dimaksudnya. Sejauh obrolan kami selama lebih dari 5 menit, kesan yang saya dapat adalah satu, pandangan mata yang cemerlang. Mata yang penuh pengetahuan.

“Katanya 10 orang, ini kok cuma 2 orang, Nasirun nglombo lah!” kali ini ada sedikit kecewa dalam ucapannya. Sontak saya merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, memang baru 2 orang yang hadir.

“Saya tunggu dari jam 3.” kalimat ini semakin membuat saya merasa bersalah.

Rasa bersalah semakin membuncah, ketika beliau menyindir halus dengan cerita Dahlan Iskan saja dibuatnya menunggu. Duh, saya semakin grogi.

Pria itu adalah Wahyu Mandoko, mantan wartawan senior di Suara Pembaruan. Tak banyak yang kami tahu soal beliau, bukan karena beliau bukan seorang pesohor, namanya saja tercantum dalam Wikipedia, hanya pengetahuan kami saja yang masih lebih rendah daripada kuku hitam. Saya dan Mbak Susi memutuskan untuk menggunakan fasilitas Google Search untuk mengenal sekilas tentang Pak Wahyu Mandoko.

Mungkin karena menangkap kesan kami termasuk golongan Islam garis keras, beliau sedikit mengupas tentang kisah bosnya, Bapak Albert Hasibuan. “Saya sudah siap itu, pakai baju rapi sekali, mau wawancara dengan Menteri, lalu saya dihadang oleh karyawan, Bos itu mushola sudah tidak layak pakai. Ini karena yang memakai itu sopir, karyawan-karyawan, mushola kotor sekali, bau lah. Akhirnya saya segera menemui bos besar. Waktu itu bos besar sedang seneng-senengnya punya laptop baru, sampai-sampai ketika saya menyampaikan itu dia tidak menoleh sedikitpun. Saya dendam sekali, dalam hati suatu saat kalau ada kesempatan, akan saya pukuli orang ini.”

Untung kami tidak terpancing emosi dan tetap pasang senyum sejuk di wajah, karena kelanjutan ceritanya memang sudah bisa di tebak, “Nah, pulang dari ketemu menteri, itu hanya beberapa jam saja, jam 2 lah saya balik ke kantor, saya dihadang lagi oleh karyawan, mereka bersalaman dan mengucapkan terimakasih. Katanya mushola sudah rapi, karpet sudah diganti, kran sudah diperbaiki. Saya jadi merasa bersalah, ternyata bos saya yang orang Kristen mau melakukan semua itu. Saya jadi merasa bersalah sekali karena tadi sudah berniat mau njotosi.”

Seperti kata Pak Nass, beliau memang agak narsis, wajar saja bila pertemuan pertama kami banyak sekali kisah tentang masa lalu yang diceritakan.

Suasana semakin cair ketika satu per satu teman-teman yang lain hadir. Termasuk Pak Nassirun Purwokartun yang sedang sakit juga hadir. Soal ini juga ada kesan tersendiri, Pak Nass memang sudah menyampaikan perihal sakitnya sejak pagi, saya pikir kegiatan sore ini akan batal tanpa kehadiran beliau. Ternyata saya salah, bahkan ketika beliau menyampaikan kondisinya tidak memungkinkan untuk berangkat, saya merasa khawatir acara tidak akan berlangsung optimal tanpa kehadiran Pak Nassirun.

Total kawan Kompilasi yang hadir 6 orang ditambah krucil-krucil yang ikut bundanya belajar menulis. Mbak Susi, Amrin, Mbak Siti, Sila, Ighna, dan saya. Karena belajar di teras dirasa kurang nyaman, kami diajak belajar di teras belakang. Melewati ruang tamu, ruang tengah, halaman belakang dan halaman paling belakang. Sepanjang perjalanan ke teras belakang, kami melihat aneka koleksi foto beliau, sebuah bukti napak tilas perjalan hidup seorang Wahyu Mandoko, memuat masa muda, masa jaya, hingga akhirnya kini menderita stroke.

Pelajaran pertama adalah Pengantar Teknik Pembuatan Berita. Beliau menyampaikan bahwa dalam sebuah berita, wajib memuat 5W dan 1H. Istilah piramida terbalik digunakan untuk menunjukkan teknik menulis 5W 1H, awalnya kami agak bingung dengan maksud piramida terbalik tersebut. Ternyata yang dimaksud adalah meletakkan poin-poin penting dalam berita pada paragraf awal.

Contohnya: Banjir besar melanda Sumpiuh, kemarin Senin 12 Maret 1995. Merobohkan 45 rumah dan 3 bangunan sekolah dasar. Hingga hari ini tercatat kerugian sebesar 1,4 milyar rupiah. Warga mengungsi sementara di Balai Desa.

Paragraf pertama memuat what, when, where, who, why. Pargaraf berikutnya mempertajam paragraf pertama dengan why dan how. Berkali-kali di tengah penjelasan beliau menyampaikan bahwa membuat berita itu mudah. Saya suka sekali bagian ini. Di mana beliau tersenyum sambil mengangkat sedikit tangan dan mengatakan, “Gampang,  gampang sekali.”

“Berita untuk koran harus dibuat sesingkat dan seluwes mungkin. Tak perlu menggunakan bahasa yang sulit, istilah yang terlalu sulit dipahami. Harus enak dibaca tukang becak sampai professor. Orang baca koran itu orang yang tergesa-gesa, cukup dibaca sepintas orang sudah tahu keseluruhan isi berita.” papar beliau lagi.

Beliau juga menyampaikan beberapa syarat seseorang menjadi wartawan, di antaranya rajin, cerdas, banyak pengetahuan, dan yang paling penting bisa menulis. Selain beberapa syarat tersebut, untuk menulis di media, kita juga harus melihat selera editor. Caranya dengan mengamati tulisan-tulisan yang banyak dimuat di media tersebut, melihat selera koran, dan tidak berputus asa ketika berkali-kali tulisan kita ditolak.

Di sela-sela penjelasan, berkali-kali beliau berdiskusi dengan Pak Nass tentang beberapa tokoh maupun peristiwa yang membuat kami roaming. Muchtar Lubis, Poppy Donggo, dan masih banyak lagi yang disebut. Rasanya jauh sekali jalan yang harus ditempuh untuk bisa mengimbangi pembicaraan mereka. Namun demikian, saya merasa senang, ada motivasi setidaknya untuk mulai membaca. Begitu banyak pengetahuan yang belum terbaca, sementara pengetahuan baru terus bermunculan, dan waktu terus berjalan.


Banyak sekali pelajaran yang tersurat maupun yang tersirat dari pertemuan kami hari itu. Tepat sesaat sebelum adzan Magrib berkumandang, pertemuan kami tutup dengan foto bersama. Barangkali semua merasakan perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan, kapan lagi waktu untuk pertemuan berikutnya? Semoga segera!

Proses Kreatif Menulis Buku



Diary Kompilasi
Sabtu, 21 Maret 2015
Proses Kreatif Menulis Buku


“Menulis itu bukan sekedar menuangkan ide, tetapi juga harus sesuai dengan kebutuhan pembaca, sebab menulis adalah industri.” 
(Meti Herawati)



Sabtu pagi yang lalu, satu per satu para ibu memasuki ruang pelatihan. Tak terlalu banyak yang hadir mengingat minimnya publikasi dan persiapan, tetapi semangat para pembelajar kentara sekali dalam ruangan. Bu Meti mampu menyedot penuh perhatian para peserta dengan materi yang dibawakannya. Siapa sih yang tak ingin menerbitkan bukunya sendiri? Goal dari setiap penulis, pastinya adalah keinginan untuk menerbitkan buku atau menembus media.

Sebuah pertanyaan menggelitik diajukan oleh Bu Meti, “Mengapa ingin menjadi penulis?” jawaban peserta pun bervariasi, dan di sini Bu Meti memberi sebuah pijakan penting, dengan menyitir sebuah hadist, dari Sahl bin Sa’d Radiallohu Anhu, Rosulullah Sholallohi Alaihi Wassalam bersabda, “Maka demi Allah, sekiranya Allah memberi hidayah kepada seseorang saja melalui dirimu, itu adalah lebih baik bagimu daripada kau memiliki unta merah.” (HR Bukhari Muslim). Ya, menulis adalah bagian dari seruan kepada Allah. Sungguh besar pahala yang kita peroleh bila ada seseorang yang mendapat hidayah melalui tulisan kita. Sebuah iming-iming besar sekaligus tanggung jawab yang tak kalah besar atas segala yang kita tuliskan.

Memasuki materi, di awal Bu Meti menjelaskan tentang bagaimana pentingnya sebuah tulisan menjadi solusi bagi pembaca. Bahkan bila perlu diadakan survey terhadap kebutuhan pembaca. Hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh pembaca. Hal ini menjadi penting, sebab saat ini menulis merupakan sebuah industri. Bila sebuah buku sepi peminat, maka penerbit tak mau mengambil resiko. Penerbit akan mengutamakan naskah yang memang sesuai dengan permintaan pasar.

Bu Meti mengambil contoh dari buku beliau, Anak Sholeh Kesayangan Orang Tua, buku ini menjadi buku yang cukup fenomenal, karena tingkat penjualannya berada pada poin 8 besar penjualan buku anak. Buku yang diterbitkan oleh penerbit kecil ini mampu bersaing dengan penerbit besar seperti Gramedia. Sampai-sampai marketing dari Gramedia mempelajari buku ini untuk mengetahui kelebihan buku karya Bu Meti tersebut. Dari sisi judul saja buku ini sudah menjual, setiap orang tua tentu ingin agar anaknya menjadi anak yang sholeh, yang patuh, yang berakhlaq mulia. Melihat judulnya, orang tua sebagai penentu kebijakan membeli atau tidak membeli buku, memiliki kepentingan pula untuk membeli buku tersebut. 

“Saat ini buku bersaing dengan kebutuhan lain yang semakin mahal, beras, uang SPP dan lain sebagainya, bila tak benar-benar butuh, tentu buku menjadi prioritas nomor sekian.” urai Bu Meti.

Untuk urusan industri ini memang sangat menarik, banyak di antara penulis, khususnya penulis pemula terjebak pada idealisme, namun melupakan kebutuhan pasar. Faktor kepekaan menjadi sangat penting dimiliki penulis. Bagaimana dia mengolah informasi dari lingkungan, melihat peluang dan mengambil kesempatan di saat yang tepat.

Poin berikutnya adalah proses kreatif pembuatan buku itu sendiri, ada 14 poin yang dibahas oleh Bu Meti. Pertama adalah menentukan tema buku, sejak awal penulis harus memetakan tema buku yang akan dibuatnya, menyesuaikan antara tema dengan sumber-sumber yang dimiliki dan kebutuhan masyarakat. Poin ke-2 dan ke-3 adalah Problem Pembaca dan Solusi bagi Pembaca, memahami kebutuhan pembaca akan memepermudah penulis untuk menentukan persoalan yang dialami oleh pembaca sekaligus menentukan solusinya sesuai dengan kebutuhan pembaca. Poin Ke-4 adalah janji buku, jangan sampai ada ketidakselarasan antara keinginan pembaca melihat judul buku dengan isi buku, semacam jaminan mutu bahwa buku ini akan membawa manfaat sesuai dengan persepsi pembaca. Ke-5 adalah Target Pembaca, dimana menentukan segmentasi pembaca akan membantu penulis merangkai kalimat yang sesuai dengan gaya bahasa target pembaca. Ke-6 adalah perkiraan harga buku, ini penting untuk seorang penulis, sehingga ia bisa memperkirakan pula apakah bukunya itu akan laku atau tidak? Atau berapa halaman ia harus menuliskannya, berapa ongkos produksi yang harus dikeluarkan oleh penerbit, bila bukunya terlalu tebal, maka buku itu pun akan mengeluarkan ongkos produksi yang cukup besar, apakah sebanding dengan isi buku. Berikutnya poin ke-7 adalah Proses Interasksi Buku dengan Pembaca, di mana buku harus memiliki interaksi dengan pembaca, di sini dicontohkan dengan buku-buku yang berfungsi sebagai pendamping mata pelajaran tertentu. Berikutnya poin ke-8 adalah Fungsi Utama Buku, apakah buku itu hanya sekadar hiburan, buku motivasi, buku pendamping, literatur, dan banyak lagi fungsi utama buku yang bisa digali oleh seorang penulis. Poin ke-9 adalah feature buku, yang dimaksud di sini adalah pelengkap buku/aksesoris, bisa dengan menambahkan gambar-gambar ilustrasi, kotak pengetahuan, puisi di awal bab, dan lain sebagainya sesuai dengan kreatifitas penulis. Poin ke-10 adalah Desain Buku, di mana penulis menentukan buku itu berbentuk novel, atau buku literatur, atau buku komik, dsb. Point ke-11 adalah Partnership. Seorang penulis dituntut untuk memiliki jaringan yang luas dalam memasarkan buku, bisa bekerjasama dengan sekolah, komunitas, perusahaan/instanti tertentu, dll. Point ke-12 adalah Point Of Difference, di mana penulis harus memiliki keunikan dalam tulisannya, meskipun telah banyak tulisan dengan tema yang sama, tetapi penulis harus mampu membuat tulisannya memiliki nilai lebih bila dibandingkan dengan tulisan yang lain. Point ke-13 adalah cara penulis menarik perhatian pembaca. Apakah itu dengan bentuk buku, jenis kertas, desain cover, warna cover, dll. Terakhir adalah potitioning buku, yang dimaksud di sini adalah label buku tersebut ketika dipamerkan di sebuah showroom buku, apakah itu buku motivasi, jika betul motivasi, maka perlu diperjelas motivasi apa? Apakah motivasi Islami, motivasi keluarga, motivasi bisnis, dll, sehingga penerbit pun tidak kesulitan untuk menentukan posisi buku tersebut.

Hal lain yang dibahas dalam pelatihan Sabtu lalu adalah tentang bagaimana menggali ide sebuah buku. Sumber ide penulisan bisa dari mana saja. Bisa bersumber dari buku-buku best seller, trend yang sedang berlangsung, kombinasi dengan industri lain, pengalaman pribadi, bahkan dari persoalan yang terjadi di sekitar kita, tulisan dari buku lain, bisa juga dilakukan dengan teknik menambah atau mengurangi kata kunci dari sebuah buku lalu membuat versi kita sendiri dengan memberi nilai yang berbeda pada tulisan kita. Setelah sumber-sumber itu jelas, cara agar proses kreatif membuat buku menjadi mudah adalah dengan membuat mind mapping dari buku yang akan kita tulis. Berisi poin-poin proses kreatif di atas.

Pada setiap sesi pemaparan di atas Bu Meti mengajak kami langsung praktek, sehingga begitu selesai pelatihan masing-masing peserta telah memiliki bekal untuk menulis buku. Faktor kemauan dan disiplin memang menjadi kunci utama seorang penulis. Bu Meti juga memberikan gambaran manajemen waktu bagi seorang penulis. Tidak bisa tidak, ketika kita memutuskan menjadi penulis, memang kita harus memiliki waktu khusus untuk menulis. Selain itu kita juga harus memiliki target waktu kapan selesai menuliskan karya. Dengan berusaha menepati dan disiplin pada jadwal yang kita buat, barulah kita bisa menjadi penulis yang sesungguhnya.

Cukup kaget juga ketika dijelaskan oleh Bu Meti, bahwa terkadang menulis satu buah buku waktu yang diberikan penerbit tidak lebih dari 2-3 pekan. Amat jarang penerbit yang memberi waktu hingga 1 bulan. Tentu saja penulis yang sering beralasan, sekalipun itu udzur syar’i bagi penerbit itu bukan urusan penerbit. Penerbit tidak mau tahu dengan urusan kita. Terlebih bila menggunakan agency. Biasanya waktu yang diberikan untuk menyelesaikan sebuah buku akan semakin singkat.

Selain memberikan berbagai informasi seputar penerbitan buku maupun agency buku hingga sistem royalti, Bu Meti juga memberikan kesempatan pada peserta untuk berbagi, mengingat beberapa peserta sudah memiliki pengalaman menulis pula. Ada Mbak Dyah yang seorang penulis cerita anak. Beliau menjelaskan berbagai pelatihan yang beliau ikuti dengan penulis ternama, seperti Kang Ali, Mbak Noerhayati, dan beberapa penulis senior lainnya. Sedangkan Mbak Henny, beliau menceritakan sedikit pengalaman beliau menulis script sinetron. Sungguh luar biasa pengalaman demi pengalaman yang diceritakan oleh teman-teman. Saya sendiri tidak berbagi apapun dengan teman-teman, malah justru minta dibagi. Mengingat Kompilasi belum lama terbentuk dan membutuhkan proses belajar yang panjang, saya berharap teman-teman penulis yang hadir suatu saat kelak bisa berbagi ilmu dengan Kompilasi.

Alhamdulillah, pertemuan yang kurang dari setengah hari itu begitu penuh barokah, padat, lancar, menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Satu poin paling penting yang saya tulis dengan huruf besar dalam hati saya adalah, “FAKTOR ALLAH”, dalam setiap proses menulis, kita harus senantiasa melibatkan faktor Allah. Sebab Allah lah yang akan memberikan hidayah kepada kita untuk menulis, memberi kita kemampuan merangkai kata, memberi jalan keluar agar tulisan kita sampai pada penerbit, dan memberi rizky pada kita melalui tulisan kita. Maka tak akan bernilai apa pun tulisan kita bila Allah tidak menghendakinya. Sungguh kesadaran ini yang harus ditanamkan dalam jiwa setiap penulis. Bahwa segala sesuatu adalah milik Allah semata, tiada kesombongan, tiada pula patah harapan, sebab Allah selalu punya cara untuk menyayangi hamba-Nya.

Tunggu apa lagi? Mari menulis, sebaik-baiknya!